Wabah belum usai walaupun masyarakat sebenarnya mulai abai. Beberapa minggu terakhir ini, berita lonjakan kasus masyarakat yang terjangkit wabah covid 19 tersiarkan lagi di tv, koran, dan internet. Seperti sebelumnya, pemerintah akan mengambil beberapa langkah kebijakan berdalih pencegahan penyebaran.

Tidak luput, berdasar kebijakan pemerintah daerah setempat, sekolah tempat dimana saya mengajar pun kembali ditutup untuk sementara. Guru-guru melakukan pembelajaran jarak jauh satu minggu terakhir ini. Tersebutlah lagi istilah-istilah klise: work from home (wfh)belajar online, dan sebagainya.

Sebenarnya, dalam beberapa bulan terakhir, setelah hampir semua siswa dan guru divaksin dan berita kasus masyarakat terpapar virus tidak berdengung lagi, semua orang merasa aman dan situasi akan normal-normal saja. Aktifitas belajar di sekolah kembali ke sedia kala. Namun demikian protokol kesehatan tetap diterapkan.

Tapi, belakangan ini, interaksi kembali dibatasi. Pertemuan dengan anak-anak di dalam kelas diganti lagi dengan pertemuan-pertemuan maya dari rumah melalui gawai atau laptop. Situasi seperti ini teralami oleh siswa dan guru sebagai konsekuensi darurat wabah melalui kebijakan pemerintah.

Tidak ada pilihan. Di tengah wabah yang mengancam kesehatan bahkan nyawa, belajar adalah ritual yang wajib terus berjalan. Pemerintah menginginkan sekolah tetap melaksanakan amanah mulia mencerdaskan kehidupan bangsa. Teknologi kemudian membuka peluang kompromi metodis alternatif, sehingga ikhtiar itu tetap bisa dilaksanakan.

Lahirlah ruang-ruang belajar baru. Guru dan siswa bertemu secara virtual, problemnya terkadang tidak semuanya menyediakan diri untuk belajar secara serius. Tidak aneh lagi selama pembelajaran, ketika guru menjelaskan materi pelajaran sampai berbusa-busa, tiba-tiba ada suara kompor menyala, suara tangis balita, hingga suara deru motor di jalan.

Wabah memang merubah cara pandang kita semua terhadap realitas, baik sosial, ekonomi, politik, dan pendidikan. Kita masih ingat, di masa-masa awal wabah, ketika aktifitas di ruang-ruang publik dibatasi, pemberdayaan teknologi menjadi alternatif utama walaupun beberapa diantara kita masih gagap menggunakannya.

Barangkali karena belum terbiasa, guru dan siswa masih mengangankan ‘kelas’ di dalam situasi dimana interaksi fisik tidak dimungkinkan terjadi. Akar sejarah sekolah mencatat kerja pendidikan formal dilakukan di ruang-ruang kelas di sekolah dari waktu ke waktu. Di masa wabah, setidaknya dua tahun terakhir ini, paradigma itu sedikit berubah, termasuk cara belajar-mengajar kita.

Tapi kita melihat beberapa bulan belakangan, guru dan siswa mulai relatif ‘adaptatif’ dengan cara belajar formal secara virtual. Bukan dalam arti yang sebenarnya, dari yang penulis alami, karena tidak semua siswa dan guru menganggap bahwa belajar dari rumah sama saja suasananya, nilainya, hingga muatan moralitasnya.

Salah satu implikasinya adalah hasil belajar siswa yang berubah dan tidak menentu. Di kantor, sesekali terjadi perbincangan antar guru tentang nilai ulangan harian atau ujian siswa yang mengalami kenaikan ataupun sebaliknya. Misalnya, siswa A biasanya nilainya tidak bagus-bagus amat selama belajar normal (sebelum wabah), tapi justru nilainya naik drastis setelah belajar dari rumah, ataupun kasus sebaliknya.

Dugaan-dugaan seperti ini mungkin saja sangat beralasan dan mengandung curiga jika melihat bagaimana cara guru mengajar dan cara siswa belajar. Kemungkinan selanjutnya adalah bahwa siswa sebenarnya sudah menemukan cara belajarnya sendiri, sehingga dia bisa lebih menguasai materi-materi pelajaran bahkan di luar penjelasan guru, bisa dari youtube dan lain-lain.

Sulit memang mendeteksi moral siswa secara virtual. Apakah siswa benar-benar mendengarkan saat guru menjelaskan pelajaran? Apakah siswa benar-benar menjawab pertanyaan ulangan dengan jujur? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini susah dijawab karena peranan guru hanya terbatas pada transformasi pengetahuan saja, selebihnya adalah peran dan pengawasan orang tua.

Evaluasi

Guru-guru yang tidak produktif dan kreatif mengolah kelas virtual, akan mengalami kesulitan dalam pembelajaran. Apa yang diajarkan akan sulit dicerna oleh siswa, sehingga anutan siswa dalam kelas-kelas pembelajaran hanya sebagai pemenuhan tuntutan sekolah demi absensi yang harus terisi, bukan untuk belajar mendapat pengetahuan dari guru. Sebab ilmu bisa diakses dari mana-mana.

Dalam kegiatan pembelajaran, sulit kita membayangkan kembali sosok guru seperti dalam penggalan puisi pujangga Hartojo Andangjaya; apalah yang kupunya anak-anakku, selain buku-buku dan sedikit ilmu, sumber pengabdianku padamu. Wabah dan teknologi membawa kita pada pengalaman belajar berbeda yang tidak saja melalui pembacaan buku-buku, tapi secara audio visual sajian materi dianggap efektif dan menarik minat belajar siswa.

Karenanya, guru dituntut mengerti teknologi. Mengajar dengan berbagai metode yang melibatkan kecanggihan teknologi seringkali dicap guru memikat dan update. Sebab teknologi memungkinkan ruang yang lebih luas bagi akses pengetahuan yang lebih beragam tanpa harus bolak-balik membuka halaman demi halaman buku sebagai sumber referensi mengajar.

Dalam kasus pembelajaran daring, sering sekali guru-guru dengan mudahnya hanya mengirim video terkait materi yang mau diajarkan melalui grup whatsapp kepada siswa dengan perintah; terkait materi kita hari ini, silahkan ditonton yah video ini, kalau ada pertanyaan silahkan japri. Tanpa menjelaskan, guru berharap siswa berusaha memahami pelajaran dengan melihat dan dan mendengar.

Praktis memang tidak semua guru melakukan hal yang sama saat menyampaikan materi pelajaran. Beberapa guru merasa harus hadir di tengah-tengah siswa, menjelaskan, mengurai, memberi contoh, dan mendeskripsikan secara verbal, walaupun ironisnya seringkali tidak mendapat respon yang terlalu baik dari semua siswa yang kadang hanya tampak setengah mukanya saja di gawainya.

Teknologi memberikan dampak positif sekaligus dilema bagi berlangsungnya pendidikan dan pembelajaran di masa wabah. Tidak saja guru, namun juga kurikulum, metode, mengalami transformasi yang sangat signifikan. Semua itu mau tidak mau mesti dilakukan demi mengikuti zaman berkemajuan.

Oleh karena itu, apabila wabah adalah keniscayaan maka yang perlu dilakukan adalah melakukan adaptasi secepat mungkin. Tidak saja bagaimana menjamin sekolah tetap aman bagi kegiatan pendidikan karena melibatkan banyak orang, baik guru maupun siswa, namun bagaimana memastikan bahwa ‘belajar-mengajar’ tetap berjalan dalam titian sejarah pendidikan-sekolah kita. (zi)